Saturday, 6 September 2025

Tantangan Perbaikan "Culture Set" di Lembaga Pendidikan


Lembaga pendidikan, sebagai fondasi pembentukan karakter dan intelektualitas bangsa, memiliki peran krusial dalam menciptakan generasi penerus yang berkualitas. Namun, seringkali kita mendapati bahwa "culture set" atau budaya yang tertanam di lembaga pendidikan tidak selalu mendukung terciptanya lingkungan yang ideal. Budaya yang dimaksud di sini mencakup nilai-nilai, norma, kebiasaan, dan keyakinan yang dianut oleh seluruh elemen pendidikan, mulai dari siswa, guru, staf, hingga manajemen.

 

Salah satu tantangan utama dalam memperbaiki "culture set" adalah resistensi terhadap perubahan. Manusia cenderung nyaman dengan rutinitas dan kebiasaan yang sudah berjalan lama, meskipun kebiasaan tersebut tidak lagi relevan atau efektif. Di lembaga pendidikan, resistensi ini bisa datang dari berbagai pihak. Guru yang sudah lama mengajar dengan metode konvensional mungkin enggan mencoba pendekatan baru yang lebih inovatif. Siswa yang terbiasa dengan sistem pembelajaran pasif mungkin sulit beradaptasi dengan model pembelajaran yang lebih aktif dan partisipatif.

 

Selain resistensi, tantangan lain adalah kurangnya kesadaran akan pentingnya perubahan budaya. Banyak pihak mungkin merasa bahwa "culture set" yang ada sudah cukup baik, atau bahkan tidak menyadari bahwa ada masalah yang perlu diperbaiki. Padahal, dalam era globalisasi dan digitalisasi ini, lembaga pendidikan harus terus beradaptasi dan berinovasi agar tetap relevan dan mampu bersaing.

 

Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, diperlukan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan. Pertama, perlu adanya kesadaran dan pemahaman yang sama dari seluruh elemen pendidikan mengenai pentingnya perubahan budaya. Hal ini bisa dilakukan melalui sosialisasi, pelatihan, dan diskusi yang melibatkan semua pihak.

 

Kedua, perubahan budaya harus didukung oleh kepemimpinan yang kuat dan visioner. Pimpinan lembaga pendidikan harus mampu menjadi agen perubahan yang menginspirasi dan memotivasi seluruh elemen pendidikan untuk bergerak menuju arah yang lebih baik.

 

Ketiga, perubahan budaya harus dilakukan secara bertahap dan terukur. Jangan memaksakan perubahan yang terlalu drastis dan tiba-tiba, karena hal ini justru bisa menimbulkan resistensi yang lebih besar. Lakukan perubahan secara bertahap, dengan melibatkan semua pihak dalam proses perencanaan dan implementasi.

 

Keempat, perubahan budaya harus dievaluasi secara berkala. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui apakah perubahan yang dilakukan sudah berjalan efektif, dan apa saja yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan.

 


Dengan mengatasi tantangan-tantangan tersebut, lembaga pendidikan dapat menciptakan "culture set" yang lebih positif dan produktif. Budaya yang mendukung terciptanya lingkungan belajar yang kondusif, inovatif, dan inklusif. Budaya yang mampu menghasilkan generasi penerus yang cerdas, kreatif, dan berakhlak mulia.

 

Namun, perbaikan "culture set" bukanlah tugas yang mudah dan cepat. Dibutuhkan komitmen, kerja keras, dan kerjasama dari seluruh elemen pendidikan. Namun, jika kita semua bersedia untuk berkontribusi, maka kita dapat menciptakan lembaga pendidikan yang lebih baik, yang mampu menghasilkan generasi penerus yang berkualitas dan siap menghadapi tantangan masa depan.


(D2n-KabiroKBR)

Thursday, 4 September 2025

"Growth Mindset", PPM bagi Guru di lingkungan SMPN-2 Sungai Ambawang


Sungai Ambawang -  Kamis (4/9/25).

Pelaksanaan IHT Pendekatan Pembelajaran Mendalam di lingkungan SMPN-2 Sungai Ambawang pada pukul 09.00 WIB s/d pukul 14.00 WIB, berjalan aman dan lancar. Acara ini dihadiri oleh Pengawas Sekolah Bapak Saptono, S.Pd, sebagai Penyaji Materi, Kepala Sekolah Ahmadi,S.Ag, Wakil Kepsek Firmansyah, S.Pd, serta seluruh Guru. 



Bahwa dalam IHT tersebut, pemateri menjelaskan tentang 

"Growth Mindset",

Pembahasan Growth Mindset  atau pola pikir berkembang, Adalah keyakinan bahwa kemampuan dan kecerdasan seseorang dapat berkembang melalui usaha, kerja keras, dan ketekunan, bukan sifat bawaan yang tetap. Dalam hal ini ada pembahasan mengenai perbedaan Fixed Mindset dan Growth Mindset yaitu jika Fixed Mindset Adalah meyakini bahwa bakat dan kecerdasan bersifat permanen dan tidak dapat diubah. Sedangkan Growth Mindset meyakini bahda usaha dan dedikasi dapat meningkatkan kemampuan seseorang.

Konsep dan Kerangka Pembelajaran

Kerangka pembelajaran mendalam  terdiri dari Dimensi Profil Lulusan, Prinsip Pembelajaran, Pengalaman Belajar, dan Kerangka Pembelajaran.

Dimensi profil lulusan berfokus pada karakter seperti keimanan, ketakwaan, kewarganegaraan, kreativitas, penalaran kritis, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.

Prinsip pembelajaran menekankan pada suasana yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olahraga. Pengalaman belajar melibatkan proses memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.


Sementara itu, kerangka pembelajaran mencakup praktik pedagogis, kemitraan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pemanfaatan digital untuk mendukung pencapaian profil lulusan.


Penyelarasan Visi dan Misi Tujuan Sekolah

Visi, Misi, dan Tujuan Sekolah adalah dokumen penting yang berisi cita-cita (visi), cara mencapai cita-cita (misi), dan hasil yang diharapkan (tujuan) dari sebuah lembaga pendidikan. Visi adalah gambaran masa depan yang ingin dicapai sekolah, misi adalah serangkaian tindakan untuk mewujudkan visi tersebut, dan tujuan adalah sasaran spesifik yang akan dicapai.

Visi dan misi sekolah harus selaras. Visi, misi, dan tujuan sekolah menjadi acuan bagi seluruh kegiatan pembelajaran dan manajemen sekolah  dan memberikan arah  yang jelas bagi seluruh warga sekolah untuk mencapai cita-cita bersama.



Kokurikuler

Kokurikuler merupakan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan untuk penguatan, pendalaman, dan/atau pengayaan kegiatan Intrakurikuler dalam rangka pengembangan kompetensi, terutama penguatan karakter. Dalam merencanakan kokurikuler diperlukan beberapa tahapan kerja yaitu harus penentuan tim kerja kokurikuler, analisis satuan pendidikan, dan membuat perencanaan berdasarkan hasil analisis. Dari hasil analisis keempat hal diatas, satuan pendidikan lalu menentukan: dimensi profil lulusan yang akan dipilih dalam kegiatan kokurikuler, tema dalam kegiatan kokurikuler, bentuk kegiatan kokurikuler, tujuan pembelajaran, alokasi waktu, merancang aktivitas, dan merancang asesmen.


"Salam Cendikia"

"Salam PRAJA SAKTI"


#Redaksi

#smpn2sungaiambawang

Sunday, 31 August 2025

Pengukuhan dan Pelepasan Pramuka SMPN 2 Sungai Ambawang Berlangsung Meriah

Sungai Ambawang (29/8/25) - SMPN 2 Sungai Ambawang sukses menggelar acara pengukuhan dan pelepasan Pramuka yang berlangsung selama tiga hari, mulai dari Jumat hingga Minggu pagi. Acara yang dipusatkan di halaman sekolah ini diikuti oleh seluruh anggota Pramuka, dengan fokus utama pada pengukuhan siswa-siswi kelas 7 sebagai anggota baru.

 

Acara dibuka dengan upacara resmi yang dipimpin oleh Kepala Sekolah SMPN 2 Sungai Ambawang, Bapak Ahmadi, S.Ag. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pentingnya kegiatan Pramuka dalam membentuk karakter siswa yang mandiri, bertanggung jawab, dan cinta tanah air.

 

Salah satu momen yang paling dinantikan adalah kegiatan api unggun dan renungan suci yang dipimpin oleh Waka Kepala Sekolah, Bapak Firmansyah, S.Pd. Kegiatan ini diketuai oleh M. Mulyadi, A.Md staf TU SMPN 2 Sungai Ambawang serta dibantu oleh para Guru dan Alumni Pramuka SMPN 2 Sungai Ambawang. Suasana khidmat terasa saat seluruh peserta merenungkan nilai-nilai luhur kepramukaan di bawah langit malam yang cerah dan penuh bintang.

 

Kegiatan pengukuhan Pramuka ini bertujuan untuk memberikan pembekalan dan semangat baru kepada siswa-siswi kelas 7 yang baru bergabung dalam organisasi Pramuka. Berbagai kegiatan menarik dan edukatif telah disiapkan untuk mempererat tali persaudaraan dan meningkatkan keterampilan kepramukaan.


Pada acara malam perpisahan Alumni Pramuka, diisi dengan penyampaian laporan kegiatan oleh ketua panitia, kata sambutan dari kepala sekolah dan pengawas SMPN 2 Sungai Ambawang Bapak Saptono, ketua Komite Sekolah bapak Kusmayadi, dan dihadiri oleh para pembina Pramuka serta orang tua siswa.


Setelah kegiatan perpisahan dan berfoto bersama, kegiatan diakhiri dengan pemutaran video profil prestasi yang diraih oleh siswa-siswi Pramuka dari angkatan 1 s/d angkatan ke-3.


Pada akhirnya, Acara ditutup secara resmi oleh Kepala Sekolah pada Minggu pagi (31/8/25). Dalam penutupan tersebut, Bapak Ahmadi, S.Ag, menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan peserta yang telah berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini. Beliau berharap, semangat kepramukaan dapat terus membara dalam diri setiap siswa dan menjadi bekal dalam meraih cita-cita.

 

Kegiatan pengukuhan dan pelepasan Pramuka ini merupakan agenda rutin SMPN 2 Sungai Ambawang sebagai upaya untuk mengembangkan potensi siswa di bidang non-akademik. Diharapkan, melalui kegiatan ini, siswa dapat menjadi generasi muda yang berkualitas dan siap berkontribusi bagi bangsa dan negara.


(D2n-Kabiro-LiputanKuburaya)


Wednesday, 20 August 2025

SMPN 2 Sungai Ambawang Sukses Gelar ANBK untuk Siswa Kelas 8


Sungai Ambawang (20/8/25) – SMPN 2 Sungai Ambawang baru saja menyelesaikan pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) bagi siswa-siswi kelas 8. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini berjalan dengan lancar dan tertib, berkat pengawasan ketat dari Wakil Kepala Sekolah / (Waka) Kurikulum, Bapak Firmansyah, S.Pd.

 

ANBK merupakan program evaluasi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk mengukur mutu pendidikan di tingkat sekolah. Asesmen ini meliputi tiga instrumen utama, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang mengukur kemampuan literasi dan numerasi siswa, Survei Karakter yang menggali informasi tentang aspek sosial-emosional siswa, serta Survei Lingkungan Belajar yang mengumpulkan data mengenai kualitas pembelajaran dan iklim sekolah.

 

"ANBK ini sangat penting untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam literasi dan numerasi, serta untuk mengevaluasi kondisi lingkungan belajar di sekolah," ujar Ibu [Nama Waka Kurikulum] di sela-sela kegiatan. "Dengan hasil ANBK ini, kami dapat merancang program-program yang lebih tepat sasaran untuk meningkatkan kualitas pendidikan di SMPN 2 Sungai Ambawang."

 

Pelaksanaan ANBK di SMPN 2 Sungai Ambawang dibagi menjadi beberapa sesi untuk memastikan semua siswa dapat mengikuti asesmen dengan nyaman dan tanpa kendala teknis. Setiap sesi diawasi oleh proktor dan teknisi yang bertugas memastikan kelancaran sistem komputer dan jaringan.


Kepala SMPN 2 Sungai Ambawang, Bapak [Nama Kepala Sekolah], menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang telah mendukung suksesnya pelaksanaan ANBK ini. "Saya berterima kasih kepada Ibu Waka Kurikulum, para guru, proktor, teknisi, dan terutama kepada seluruh siswa kelas 8 yang telah berpartisipasi aktif dalam ANBK ini. Semoga hasil ANBK ini dapat menjadi bahan evaluasi yang berharga bagi kami untuk terus berbenah dan meningkatkan mutu pendidikan di sekolah ini," tuturnya.


Dengan suksesnya pelaksanaan ANBK ini, SMPN 2 Sungai Ambawang menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan mempersiapkan siswa-siswi untuk menghadapi tantangan di masa depan.


(D2n - Kabiro KPK. Kuburaya)

Tantangan Perbaikan "Culture Set" di Lembaga Pendidikan

Lembaga pendidikan, sebagai fondasi pembentukan karakter dan intelektualitas bangsa, memiliki peran krusial dalam menciptakan generasi pener...